Kisah yang menyentuh hati, dahulu seorang milyarder, kini berjualan siomay keliling
Jalan hidup tidak selalu bisa diprediksi. Sriyono, yang dulunya seorang miliarder, kini menjalani kehidupan sebagai penjual siomay keliling. Namun, dengan gaya berpakaian yang unik dan mencolok, ia nampaknya akan segera kembali mendapatkan predikat sebagai seorang miliarder.
Menjadi penjual siomay keliling dengan kostum dan aksesori berwarna pink telah membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Ia bahkan pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi dan mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Semua hal ini dilakukannya dengan tujuan untuk bisa bertemu dengan anaknya.
Di kawasan kelas menengah ke atas di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan, Sriyono dikenal dengan nama Siomay Pink. Meskipun namanya tidak begitu dikenal di sana, namun ketika disebutkan Siomay Pink, banyak warga yang langsung mengenali. Mulai dari sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak.
Siomay Pink telah menjadi identitas Sriyono di dunia maya. Mesin pencari Google menunjukkan 83.500 hasil yang mengacu pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono sambil berkeliling dengan sepeda pink.
Penampilan nyentrik Sriyono, dengan kostum serba pink mulai dari kaus, celana pendek, topi, jam, hingga anting, telah membuatnya terkenal. Namun di balik penampilan tersebut, terdapat kisah perjuangan hidup yang penuh liku-liku.
Kisah sukses Sriyono dimulai pada tahun 1969 ketika ia merantau ke Jakarta dan menjadi sales mobil. Ketertarikannya pada siomay membuatnya belajar cara membuat makanan itu dari seorang keturunan Tiongkok. Beberapa tahun kemudian, usaha siomay tersebut diwariskan kepadanya setelah sang guru meninggal dunia.
Pada tahun 1980-an, Sriyono memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan bersama teman-temannya. Kesuksesan diraihnya ketika ia berhasil membuka outlet di Plaza Senayan pada tahun 1996, dengan pendapatan mencapai Rp 2 miliar per tahun.
Namun, masalah rumah tangga membawa dampak buruk pada bisnisnya sehingga Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan dan usahanya bangkrut. Setelah perceraian dengan istri dan kehilangan kontak dengan kedua anaknya, Sriyono mengalami masa sulit dan bahkan menjadi gelandangan di jalanan Jakarta.
Beruntungnya, ia mendapat bantuan modal dari seorang jamaah pengajian dan memulai lagi usaha siomay kelilingnya. Dengan semangat dan ketekunan, Sriyono berjuang untuk bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan hidupnya dengan penuh semangat.
Awal tahun 2025, Sriyono sudah memiliki gerai siomay di mal Pasaraya Blok M yang bernama Siomay Maestro. Namun, karena merasa kesepian dan rindu kepada kedua anaknya, fokusnya dalam berbisnis terganggu dan dia kembali mengalami kebangkrutan. Hingga saat ini, Sriyono masih memiliki utang sebesar Rp 13 juta kepada manajemen Pasaraya.
Di tengah keputusasaan, sebulan sebelum bulan puasa tahun 2025, dia mencari cara baru dan mendapatkan ide cemerlang. Dia memutuskan untuk memulai usaha siomay keliling dengan tampilan yang unik agar anak-anaknya bisa mengenalinya. Sriyono memilih mengenakan seragam berwarna pink dan menggunakan pernak-pernik pink saat berjualan keliling.
Dia berusaha hadir di setiap kesempatan di mana banyak orang berkumpul di Jakarta. Akhirnya, Sriyono dikenal sebagai "maskot" dalam acara Hari Bebas Kendaraan yang diadakan setiap bulan di jalan protokol Jakarta. Dia berharap semakin banyak orang yang mengenalnya, semakin besar kesempatan untuk bertemu kembali dengan kedua anaknya setelah lima tahun berpisah tanpa kabar.
Meskipun usahanya tampil unik tidak mudah, Sriyono tetap tabah menghadapi ejekan dan cemoohan dari orang-orang yang lewat. Dia sering disangka sebagai waria yang berjualan siomay siang hari dan "berpraktik" malam hari. Namun, demi bertemu dengan anak-anaknya, Sriyono tetap tersenyum dan menerima semua hinaan dengan lapang dada.
Kini, Sriyono telah memiliki berbagai perlengkapan berwarna pink seperti kaus, sandal, topi, jam tangan, kacamata, kalung, anting-anting, dan sepatu. Usahanya akhirnya membuahkan hasil ketika namanya menjadi populer di media sosial dan di situs kaskus.us. Bahkan, sebuah koran bahasa Inggris di Jakarta memuat foto Sriyono dengan aksesori pink lengkap. Akhirnya, melalui sebuah stasiun televisi nasional, Sriyono berhasil bertemu dengan kedua anaknya.
Kesuksesan di televisi membawa berkah bagi usaha Sriyono. Omzet penjualan siomay kelilingnya meningkat lima kali lipat menjadi Rp 1 juta per hari. Banyak yang memesan siomay dalam jumlah besar, sehingga pendapatannya meningkat pesat. Seorang pengusaha menawari Sriyono untuk membuka franchise Siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta.
Sriyono juga mendapatkan tawaran untuk bermain sinetron dan sudah mendapatkan schedule casting dari sebuah rumah produksi. Namun, dia tetap fokus pada usaha siomaynya dan berencana membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Dia ingin anak-anaknya bangga memiliki ayah yang sukses sebagai penjual siomay berkaus pink. Sriyono bertekad untuk bangkit demi putri-putrinya.

Belum ada Komentar untuk "Kisah yang menyentuh hati, dahulu seorang milyarder, kini berjualan siomay keliling"
Posting Komentar