Bagaimana cara kita memandang mantan kita?
Sebenarnya istilah eks mungkin bukanlah istilah yang tepat untuk seseorang yang pernah ada dalam kehidupan kita, tapi hal ini telah menjadi umum dan sangat umum di kalangan pribadi kita. Namun, yang ingin saya bahas adalah sikap kita terhadap mantan itu sendiri. Pernahkah kita menyapa atau menjalin hubungan yang baik dengan mantan pacar atau mantan pasangan? Meskipun mantan itu pernah menyakiti kita?
Benar, mungkin dalam pikiran kita akan langsung berkata "Untuk apa?!," "Tidak penting!," atau bahkan "Itu cuma membuat sakit!!" atau berbagai macam lainnya. Sesungguhnya, hidup ini adalah serangkaian peristiwa yang saling berkait. Satu kaitan akan mengait yang lainnya dan tentu saja jika hilang satu di antaranya maka hidup kita tidak lagi lengkap, meski mungkin itu tidaklah terlalu penting. Tanpa mantan, mungkinkah kita akan menjadi pribadi seperti sekarang ini? Tepikan sejenak tentang baik dan buruk akibat yang hadir, tapi cobalah melihat ke sisi keterkaitan antara mantan dan kehidupan kita.
Mereka yang merasa sakit untuk sekedar menyapa atau mengingatnya, sadarkah bahwa kita menjadi pribadi yang lebih kaya dengan rasa? Setidaknya dulu kita tidak pernah merasakan sakit seperti yang mantan kita berikan, dan bukankah itu benar-benar hal yang luar biasa? Kita menjadi lebih kuat dan sebenarnya itulah tujuan dari kondisi perpisahan, kita tidak pernah tahu seberapa kuat kita mengatasi suatu masalah bila kita tidak mengalaminya.
Mereka yang kemudian depresi dan gagal melanjutkan hidupnya dengan baik, bukan karena mereka tidak kuat atau tidak berhasil melewati masalahnya, tapi lebih kepadaketidakmengertian mereka akan adanya hal luar biasa yang tersembunyi dalam suatu masalah hingga akhirnya menyerahkan hidupnya pada tangan-tangan kekosongan, penderitaan.
Perpisahan memang sangat tidak menyenangkan, apalagi dengan orang yang kita cintai, terlebih lagi perpisahan itu terjadi dengan cara yang menyakitkan. Akan menjadi hal yang traumatik bagi tiap pasangan yang berpisah dan meninggalkan luka yang terpendam. Sekedar menyapa atau mengingatnya saja seakan membubuhkan air jeruk di atas luka sayatan. Perih.
Kemudian kita membuat pembenaran untuk menguburnya dan menghilangkan semua hal tentang mantan. Benarkah semua itu hilang? Tidak, ia hanya tersimpan rapat dalam ruang es di dalam hati dan pikiran kita. Suatu saat, kelak ketika semuanya keluar lagi, sakit yang teramat perih itu pun akan kembali mencabik-cabik hati kita. Akankah kita biarkan hal itu terjadi?
Berulang terus? Seperti tulisan sebelumnya tentang menikmati hal yang tak ingin dinikmati, penerimaan akan hal-hal sakit yang terjadi itu akan semakin membuat jiwa kita dewasa. Semakin mengerti seberapa jauh kita menjalani hidup. Hal menyakitkan yang pernah kita alami akan terus ada dalam hidup kita selama kita tidak mampu menghadapinya.
Mungkin bagi mereka yang jiwanya kuat dan mampu meredam segala perih yang hadir, itu bukanlah sebuah masalah, tapi bagi mereka yang emosinya labil? Bukankah sebagian dari kita seperti itu? Tiba-tiba saja hati kita merasa sakit, kemudian tanpa sadar kita mungkin makin menyakiti diri kita sendiri. Mungkin sebagian dari kalian merasakannya juga, entah.
Mampukah kita memulainya? Menghadapi hal-hal yang memang akan terasa sakit hingga akhirnya kita menyadari itu semua adalah bagian dari hidup? Atau kita akan berusaha menguburnya dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja tanpa pernah tahu kapan rasa sakit itu akan datang lagi?
Berputar lagi dalam lingkaran kehidupan kita? Kembali ke masalah mantan, mungkinkah kita sadar apa yang terjadi adalah sebuah ketentuan Tuhan, kalau sudah begitu masihkah kita mengurung diri dalam pembenaran-pembenaran yang kita buat? Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, mungkin saja mantan yang dulu sangat menyakitkan kelak akan hadir dan mengisi hidup kita dengan cara yang berbeda, dengan kebaikan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Apakah salah jika kita tetap menyapa atau sekedar menjalin silaturahmi?
Kalau pun sekedar menyapa ternyata menyakitkan untuk pasangan kita yang sekarang hadir, maka itu kembali lagi pada seberapa kuat kita bisa meyakinkan pasangan kita bahwa mantan hanyalah sekedar masa lalu, dan sekarang sedang menulis kisah yang berbeda untuk kebaikan bersama. Sekali lagi, kebaikan kadang datang dari jalan yang tak pernah kita duga, akankah kebaikan itu terlewat begitu saja hanya karena ego?
Sebuah cerita telah tertulis meski akhirnya terhenti dengan cara menyakitkan, tapi itu sudah tertulis dan ada dalam buku kehidupan kita, sekarang kita pun sedang menulis kisah yang baru, kisah yang bahagia, hingga kita tidak ingin sedikit pun melihat dan membaca lagi kisah-kisah kita sebelumnya, tapi, kisah itu tetap ada kan? Sekarang semua kembali pada keinginan kita, untuk menerima bahwa mantan atau masa lalu adalah bagian dari kehidupan kita, sebuah mata rantai yang mengait dan menjadikan lingkaran hidup kita utuh, atau menghilangkan satu mata rantai hingga lingkaran hidup itu tak lagi sempurna?
Sekedar menyapa atau menjalin kebaikan silaturahmi menurutku salah satu jalan bagi kita untuk mengerti seberapa jauh kita memahami kehidupan. Karena sebagian kita akan lari dan terus membawa rasa sakit itu hingga usia senja.

Belum ada Komentar untuk "Bagaimana cara kita memandang mantan kita?"
Posting Komentar